Senin, 02 November 2015

Kekecewaan Pada Sebuah Kekagumana

Membuat kawan kita terkagum-kagum dengan sesuatu yang sangat kita banggakan ternyata memang bukan hal yang mudah. Butuh usaha keras, dan kadang harus disertai dengan kebejoan pula.

Dulu, sewaktu kecil, saya pernah mengajak Rudi, kawan sepermainan saya untuk berkunjung ke rumah nenek saya di kaliangkrik, sebuah daerah yang berada di lereng gunung Sumbing. 


Salah satu sudut Kaliangkrik, via santridanalam.blogspot.com

Bukan tanpa sebab saya mengajak Rudi main ke rumah nenek, selain untuk menemani saya mengambil pesanan marmut, saya juga ingin membuat Rudi merasa takjub dengan keindahan alam pegunungan yang ada di kampung nenek saya.

Namun sesampainya di kampung nenek saya, apa yang saya harapkan ternyata jauh dari ekspektasi. Rudi sama sekali tidak terkagum-kagum dengan keindahan alam di kampung nenek saya. Agaknya, pemandangan pegunungan yang hijau dengan hamparan sawah yang luas memang masih terlalu umum untuk dikagumi.

Saya tak habis usaha dan tak mau menyerah begitu saja.

Saya pun kemudian mengajak Rudi turun ke sungai di dekat rumah nenek saya, Kali Kanci, begitulah warga sekitar menyebutnya. Saya yakin, Kesegaran dan kejernihan air Kali Kanci pasti akan membuat Rudi terkagum-kagum.

Namun hasilnya kembali nihil. Rudi tak menampakkan wajah kekaguman sedikitpun. 

Saya mulai kecewa. Ternyata tak ada yang istimewa dari kampung nenek saya ini di mata Rudi.

Hingga pada suatu titik, Rudi memanggil saya dengan penuh antusias.

“Gus, cepetan sini!”

“Ada apa Rud?” kata saya seraya menghampiri Rudi yang terlihat nampak begitu sumringah

“Lihat, ada anakan ikan lele banyak banget!” kata Rudi sambil menunjuk pada sebuah kubangan di salah satu bagian sungai.

Dengan Jumawa saya menjawab “Wah, kalau cuma anakan lele, disini memang banyak Rud!”

“Wah, gila ya, banyak sekali anakan lele-nya, kalau di kampungku, anakan lele sebanyak ini pasti sudah diambili trus dijual!”

“Kalau disini ndak Rud! soalnya orang-orang disini ndak terlalu suka sama lele!” kata saya menerangkan seolah-olah anakan lele yang begitu dikagumi oleh Rudi itu tampak tak berharga bagi orang-orang di kampung nenek saya.

Tanpa sadar, harapan saya kembali membuncah.

Akhirnya, ada juga sesuatu dari kampung nenek saya yang bisa membuat Rudi terkagum-kagum. Rupanya Rudi begitu kagum dengan banyaknya anakan Lele yang ada di Kali Kanci. Yah, walau cuma karena anakan lele, tapi setidaknya, ada sesuatu yang bisa saya banggakan dari kampung nenek saya.

Dalam perjalanan pulang, saya tak henti-hentinya tersenyum. Tersenyum karena misi saya untuk membuat Rudi terkagum-kagum pada kampung nenek saya setidaknya bisa terlaksana. 

Namun di satu sisi, saya juga merasa sedih. Sedih karena anakan lele yang dilihat oleh Rudi di Kali Kanci tadi sebetulnya adalah... 

Kecebong... Ya, Kecebong.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar